Benteng yang Salah Dibangun

 

Cerpen oleh: Empuss Miaww

* * *


I. Peta Sebuah Benteng


Dimas Arya Pratama adalah arsitek benteng yang tidak pernah belajar arsitektur.


Ia membangun temboknya sendiri sejak lama — bata per bata, dari setiap penolakan yang pernah ia terima, dari setiap momen ketika ia merasa tidak cukup baik, tidak cukup mapan, tidak cukup layak untuk dicintai oleh perempuan yang ia inginkan. Hasilnya adalah benteng yang kokoh, tinggi, dan sangat tidak estetik — tapi ia bangga dengan konstruksinya sendiri.


Di balik benteng itu, Dimas menyimpan dua hal sekaligus: insecure yang tidak pernah ia akui, dan kesombongan yang lahir justru karena insecure itu. Kombinasi yang berbahaya, tapi sangat umum pada lelaki anak bungsu yang terlalu lama dimanjakan semesta.


Ia tidak tahu bahwa semesta, dengan cara kerjanya yang tidak bisa ditebak, sudah mengirimkan seseorang yang spesialisasinya adalah meruntuhkan benteng.


Namanya Sekar.


* * *

II. Sekar dan Strateginya yang Tidak Ada


Sekar Arum tidak punya strategi.


Ini yang membuat Dimas bingung sejak awal. Ia terbiasa dengan perempuan yang punya agenda — yang tersenyum dengan perhitungan, yang hadir dengan tujuan, yang setiap gerakannya bisa ia baca seperti membaca papan catur.


Sekar datang seperti hujan yang tidak membawa payung — tidak terencana, tidak dramatis, dan entah kenapa justru menyegarkan.


Ia mandiri. Ia cantik dengan cara yang tidak meminta perhatian. Ia punya kehidupan sendiri yang penuh dan tidak membutuhkan Dimas untuk melengkapinya — dan justru itu yang membuat Dimas, tanpa sadar, mulai memperhatikannya.


Sekar tidak tahu bahwa caranya hadir — apa adanya, tanpa meminta, tanpa menuntut — sedang menggerogoti fondasi benteng yang sudah bertahun-tahun Dimas bangun dengan penuh kebanggaan.


Bata pertama runtuh ketika Sekar datang ke kosnya hanya untuk curhat, duduk di ruang tamu, dan pulang tanpa meminta apa-apa.


Dimas menutup pintu dan berdiri diam selama dua menit.


Ia tidak mengerti kenapa dadanya terasa aneh.


* * *

III. Serangan Pertama yang Tidak Terasa Seperti Serangan


Sekar menyukainya. Itu bukan rahasia — setidaknya tidak untuk semua orang kecuali Dimas.


Teman-teman mereka sudah tahu sejak lama. Cara Sekar tertawa lebih keras dari biasanya ketika Dimas bercerita. Cara ia selalu ada dengan alasan yang tipis tapi konsisten. Cara matanya mencari Dimas di ruangan yang penuh orang.


Dimas tahu juga, sebenarnya.


Tapi bentengnya menyediakan mekanisme pertahanan yang canggih: pura-pura tidak tahu. Karena mengakui bahwa Sekar menyukainya berarti harus melakukan sesuatu dengan informasi itu. Dan melakukan sesuatu berarti membuka pintu. Dan membuka pintu berarti risiko.


Dimas tidak suka risiko yang melibatkan hatinya sendiri.


Maka ia melanjutkan hidupnya seolah tidak ada yang istimewa — sampai suatu malam, Sekar memutuskan bahwa diam sudah terlalu lama menjadi pilihan.


* * *

IV. Pernyataan Cinta dan Kehancuran Sepihak


Sekar mengatakannya dengan cara yang tidak dramatis.


Tidak ada setting yang disiapkan. Tidak ada bunga atau lilin atau latar belakang yang instagramable. Mereka sedang berjalan pulang dari warung kopi kampus ketika Sekar berhenti di bawah lampu jalan yang satu dari tiga lampunya sudah mati, dan berkata:


"Aku suka sama kamu, Mas Dimas."


Dimas berhenti melangkah.


Di dalam bentengnya, alarm berbunyi. Semua mekanisme pertahanan aktif serentak. Dan dari balik tembok yang kokoh itu, keluarlah respons yang akan ia sesali dalam waktu yang sangat lama:


"Kamu terlalu baik buat aku."


Sekar menatapnya sebentar.


"Itu bukan jawaban iya atau tidak."


"Aku serius, Kar. Kamu cantik, mandiri, punya masa depan yang jelas. Aku—" Dimas berhenti. "Aku belum tentu bisa bikin kamu bahagia."


Hening. Lampu jalan yang masih hidup berdengung pelan di atas mereka.


"Jadi tidak?"


Dimas menghela napas. Dan dengan kebodohan yang luar biasa terstruktur, ia mengangguk.


"Maaf."


Sekar mengangguk pelan. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya mengangguk, seperti seseorang yang menerima hasil ujian yang tidak sesuai harapan tapi sudah menduga kemungkinan itu.


"Oke," katanya. "Boleh aku tetap jadi temanmu?"


Dimas menatapnya — perempuan yang baru saja ia tolak dengan alasan yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya percaya — dan merasakan sesuatu yang tidak bisa ia namakan malam itu.


"Tentu."


Mereka pulang masing-masing. Dan Dimas, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak bisa tidur bukan karena insecure — tapi karena sesuatu yang terasa seperti menyesal.


* * *

V. Sekar Tidak Pergi


Ini yang tidak Dimas antisipasi.


Ia sudah menyiapkan diri untuk kehilangan Sekar — karena begitulah biasanya cerita berjalan. Pernyataan ditolak, perempuan menghilang, kisah selesai, semua orang move on.


Tapi Sekar tidak menghilang.


Ia tetap ada. Tetap datang dengan alasan-alasan kecil. Tetap tertawa di waktu yang sama. Tetap duduk di ruang tamu dan bercerita tentang hari-harinya seolah malam di bawah lampu jalan yang mati itu tidak pernah terjadi.


Ini membuat Dimas bingung pada level yang baru.


Kenapa ia tidak pergi? pikirnya. Aku sudah menolaknya. Ia harusnya marah. Atau setidaknya menjaga jarak. Ini tidak sesuai dengan narasi yang aku siapkan.


Tapi Sekar rupanya tidak membaca narasi yang Dimas siapkan.


Dan tanpa Dimas sadari, kehadirannya yang konsisten itu sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh pernyataan cinta mana pun — ia sedang membuktikan, hari per hari, bahwa apa yang ia rasakan bukan sekadar perasaan sesaat yang akan menguap setelah penolakan.


Bata kedua runtuh.


Lalu ketiga. Lalu keempat.


* * *

VI. Runtuhnya Benteng


Tidak ada momen dramatis ketika benteng itu akhirnya runtuh.


Tidak ada kilat. Tidak ada gempa. Hanya suatu sore yang biasa ketika Sekar datang dengan dua gelas es teh karena ia tahu Dimas sedang pusing mengerjakan tugas, dan meletakkannya di meja tanpa diminta, tanpa menunggu ucapan terima kasih, lalu duduk di sudut ruangan membaca bukunya sendiri.


Dimas menatap punggungnya.


Dan di dalam benteng yang tinggal puing-puing itu, sesuatu akhirnya bergerak dengan cara yang tidak bisa lagi ia tahan atau sembunyikan atau rasionalisasi.


Perempuan ini sudah melihat penolakanku. Dan ia masih di sini. Membawakan es teh. Membaca buku di sudut ruangan. Seperti tidak ada yang lebih wajar dari ini.


Dimas meletakkan penanya.


Kenapa... aku menolak orang seperti ini? batinnya.


Jawabannya datang pelan tapi telak: karena ia takut. Bukan takut pada Sekar. Tapi takut pada dirinya sendiri — takut tidak cukup baik, takut mengecewakan, takut memulai sesuatu yang mungkin tidak bisa ia selesaikan dengan baik.


Insecure yang sudah bertahun-tahun ia sembunyikan di balik kesombongan tiba-tiba berdiri telanjang di tengah ruangan, dan Dimas tidak punya tembok lagi untuk bersembunyi di belakangnya.


* * *

VII. Lamaran yang Tidak Ada di Buku Mana Pun


Dimas butuh tiga hari untuk menyiapkan keberaniannya.


Bukan keberanian untuk melamar — meski itu juga butuh keberanian yang tidak kecil. Tapi keberanian untuk mengakui kepada dirinya sendiri bahwa selama ini ia salah. Bahwa benteng yang ia bangun bukan untuk melindungi dirinya, melainkan untuk menghindari tanggung jawab mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh.


Di hari keempat, ia menelepon Sekar.


"Kamu bisa ke sini?"


"Ada apa?"


"Ada yang perlu aku bilang."


Sekar datang. Duduk di kursi yang sama seperti selalu, dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak — perempuan ini memang tidak pernah mudah ditebak.


Dimas duduk di depannya. Ia tidak membawa bunga. Tidak menyiapkan kata-kata yang puitis. Yang ada hanya ia, kursinya, dan keberanian yang mepet.


"Waktu itu aku bilang kamu terlalu baik buat aku."


"Iya."


"Itu... masih benar. Kamu memang terlalu baik buat aku."


Sekar menunggu.


"Tapi aku mau coba jadi orang yang layak. Kalau kamu masih mau."


Hening selama dua detik yang terasa seperti dua tahun.


"Itu masih bukan jawaban iya atau tidak juga, Mas."


Dimas menghela napas panjang. Lalu dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sesuatu yang sudah ia siapkan tiga hari terakhir — bukan cincin berlian, karena tabungannya belum sampai ke sana — melainkan kotak kecil berisi cincin perak sederhana yang ia beli kemarin sore sambil gemetar di depan etalase toko.


"Mau nikah sama aku?"


Sekar menatap kotak itu. Menatap Dimas. Menatap kotak itu lagi.


Kemudian ia tertawa — bukan tawa yang meledak-ledak, tapi tawa kecil yang keluar dari sudut bibirnya, tawa seseorang yang sudah lama menunggu sesuatu dan ketika akhirnya datang, bentuknya jauh lebih lucu dari yang dibayangkan.


"Mas Dimas."


"Ya."


"Kamu menolak pernyataan cintaku. Tapi kamu melamarku."


"...Iya."


"Itu logika apa?"


Dimas diam sebentar. Lalu dengan ekspresi yang sangat berusaha terlihat serius tapi gagal total:


"Logika orang yang sudah habis bentengnya."


Sekar menatapnya lama. Di matanya ada sesuatu yang sudah lama berdiam di sana — bukan kemenangan, bukan kepuasan karena akhirnya berhasil. Tapi sesuatu yang lebih tenang dari itu. Sesuatu yang hanya bisa ada di mata seseorang yang mencintai bukan untuk memiliki, tapi karena memang begitulah ia.


"Iya," katanya akhirnya.


Satu kata. Tapi beratnya cukup untuk merobohkan sisa-sisa benteng yang masih berdiri.



* * *


Insecure yang tidak diakui

sering berpakaian seperti kesombongan.


Dan cinta yang gigih

bukan yang memaksa masuk —

melainkan yang sabar berdiri di depan pintu

sampai penghuninya sendiri

lelah mengunci dari dalam.


* * *

— Selesai —


Komentar